Kamis, 22 Agustus 2013

Balada Back To Reality

Ada yang menarik dari status orang-orang di sosial media setelah melakukan cuti panjang di hari libur lebaran kemarin.Benang merah-nya yang saya tangkap kira-kira seperti ini : “Back to Reality..” *dengan nafas berat… hehehe…

Apa yang menarik dari fenomena itu? Bagi saya pribadi itu menimbulkan pertanyaan di hati kecil saya, jika kembali ke dalam rutinitas setelah libur panjang yang di artikan sebagai kehidupan nyata (*back to reality), maka liburan dan cuti panjang kemarin apakah sesuatu yang tidak nyata?

Berkumpul bersama keluarga, berlibur, bersilaturahmi yang kemarin itu apakah sesuatu yang semu? Mungkin perlu dijadikan renungan dan pertanyaan yang menarik buat diri kita sendiri, manakah yang nyata dalam kehidupan kita? “Di luar rumah” ataukah “di rumah”?




Balada "Back to Reality"

Apa yang menjadi nyata bagimu?
Dan apa yang menjadi tidak nyata bagimu?
Sudah ku katakan sebelumnya..
Jangan pernah tinggalkan hatimu!
Karena di sanalah sesuatu itu menjadi nyata atau tidak nyata
Itu yang aku mengerti, setidaknya…


Note:
Selamat menikmati yang “nyata-nyata ya…” =D

Senin, 22 Juli 2013

Balada Away Home from Home

“Dimana rumahmu?” pertanyaan simpel yang tidak mudah dijawab. Slogan ‘away home from home’ pertama kali saya baca di area kerja sumur minyak yang terpencil  di pesisir laut jawa. Slogan tersebut merubah mind set saya  bahwa tempat kerja yang terpencil ini adalah my away home. Dengan merubah cara pandang tersebut, membantu saya dalam menjalani rutinas kerja di tempat terpencil ini karena dalam mind set sekarang saya berada dimy away home. Jika kita melihat lebih luas lagi, mungkin bagi para supir truck yang mengantarkan keperluan logistik ke seluruh daerah, jalanan adalah away homebagi mereka. Ataupun kampung halaman (*rumah orang tua atau rumah masa kecil) yang merupakan away home bagi para perantau. Namun kita harus selalu ingat bahwa slogan tersebut diikuti dengan katafrom home. Jadi apapun keadaanya, kita tidak bisa selalu berada di away home.

“Jadi di mana rumahmu?” Apakah pertanyaan itu masih simpel untuk di jawab, jika iya.. maka bersyukurlah, karena dirimu tau kemana harus pulang setelah dari away home… Namun bagi beberapa orang, pertanyaan tadi sulit untuk di jawab… Percayalah…



Balada away home from home...

Pergilah sejauh-jauh kamu mampu
Arungi dunia..
Kejar lah Matahari terbit di Timur
Dan nikmati senja di Barat
Dan lingkaran itu akhirnya akan menuju satu titik
Pulang…


Note:Berpergian itu menyenangkan, dan pulang pun tidak kalah menyenangkannya… *anonim

Balada Seniman Kecilku..

Balada kali ini sekedar sharing sebuah tulisan dari Kahlil Gibran – Anak-anakmu…  Enjoy =D



Anak Anakmu (Kahlil Gibran)

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Kamis, 27 Juni 2013

Balada Langut

Mungkin sedikit orang Indonesia yang mengerti arti kata ‘langut’. Ini adalah sebuah kata yang jarang sekali kita gunakan dalam bahasa sehari-hari, namun sering kali kita rasakan. Kata ini saya temukan pertama kali saat membaca novel dari seorang penulis bernama Anjar, sebuah novel berjudul Lelana: Jiwa-Jiwa yang pulang, yang di tulis dengan gaya bahasa yang sangat puitis.

Nah, akhirnya kata itu saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tepatnya di toko buku Gramedia..hehe..

Berikut defenisinya :
v  Langut : rindu, ;    
Melangut ; merasa rindu (sedih,kasih)



Aku ingin mendirikan senyummu pagi ini.
Bersama embun jernih menetes satu-satu laksana titik-titik penghubung bumi dan langit.
Biarkan tenda di bibir tipismu berdiri.
Lebih merekahlah ujung-ujungnya membiaskan rasa terdalam yang mungkin tak dapat kau ungkapkan.
Jangan pedulikan mentari.
Ia memang akan menyembul lalu menari.
Tapi, itu hanya sementara sebab awan akan muncul mengiringi.
Embusan bayu pun akan menyebarkan aroma beda yang jika kau biarkan melingkupi jiwa raga maka tiada lagi terasa rasa indah lainnya.
Teruslah tersenyum, sayang…Senyummu sungguh menggugah langutku terdalam.
Biarkan langut itu merekah di segenap dadaku.
Pengganti penat sekian lama.
Bercerita tentang sebentuk jiwa yang mencari home, bukan saja dalam bentuk fisik rumah, tapi juga sebentuk rasa dan sebentuk ketulusan hati yang dipercaya akan menampung segala langutnya.
Saya berharap, “Lelana” bisa membasuh kerinduan setahun menunggu.

*(Lelana, jiwa-jiwa yang pulang”, halaman 83, Grasindo 2007)


Balada Langut

Jarak dan jeda selalu memberikan tempat untuk sebuah langut..


Note:
Happy Friday and Happy Wiken untuk semua..Dari tengah lautan dengan kalender hitam semua… hehehe..



*Gak masalah kerja 15 jam sehari tidur cuma 5 jam sehari. Alhamdulilah  masalahnya gaji cuma tahan sampai tanggal 15  =D

Selasa, 25 Juni 2013

Balada " Dewasa itu Menyenangkan, tapi Susah Dijalanin"

Sebuah iklan salah satu provider seluler di Indonesia, sebut saja Tri (bukan bermaksud promosi), yang sekarang sering menghiasi TV di Indonesia (*untuk temen2 yang lagi di luar bisa via you tube yah liatnya,hehe..). Bagi saya pribadi cukup membuat termenung panjang setelah menyaksikan iklan tersebut.. Takjub akan pola pikir out of box-nya dalam membuat sebuah iklan, sedih saat membaca narasi dari iklan tersebut. Begitulah kenyataannya bukan?



Berikut petikannya…
Versi #1
Kalo aku dah gede aku pengen kerja di multinational company
Aku mau kerja di gedung tinggi
Ngomong English tiap hari
Rambut klimis, sepatu mengkilat, kaya orang penting
Tapi ngerjain kerjaan yang kurang penting
Jadi tukang fotocopy, bawain laptop, beres-beres kertas
Gak masalah kerja 15 jam sehari
Tidur cuma 5 jam sehari
Masalahnya gaji cuma tahan sampai tanggal 15
Untung di warteg bisa makan dulu bayar belakangan
Tapi sayang gak berlaku untuk beli pulsa
Jadi orang gede emang menyenangkan tapi susah dijalanin

Versi #2
Kalo aku dah gede aku mau jadi esmud
Mau jadi bos
Hari-hari ngomong campur bahasa Inggris
Tiap Jumat pulang kantor nongkrong bareng sesama esmud,
ngomongin proyek besar biar kelihatan sukses
Suara digedein biar kedengeran cewek di meja sebelah
Kalo weekend sarapan di cafe sambil sibuk laptopan
Pesen kopi secangkir harga 40 ribuan
Minumnya pelan-pelan biar tahan sampai siang demi wifi gratis
Kalau tanggal tua pagi,siang,malem makannya mi instan
Kalau mau nelfon bisanya cuma missed call
Jadi orang gede emang menyenangkan tapi susah dijalanin




Balada "Dewasa Itu Enak Tapi Susah Dijalanin"

Aku cuma berpikir
Sebuah khayalan di pagi yang tenang
Tentang anak-anak yang ingin menjadi seorang guru
Menjadi seorang penulis hebat
Menjadi pengusaha yang memajukan sebuah UKM di daerah sana

Saat dewasanya nanti..
Hidup dengan simple, tidak terlihat wah ataupun kumuh..
Namun berkarakter..
Bukan jiwa-jiwa yang senang berhutang
Hidup yang sesuai dengan kemampuan Memiliki waktu yang lebih untuk di rumah
Lebih sering duduk bersama di meja makan
Menikmati secangkir teh bersama keluarga
Sambil bercanda gurau dan tertawa Menjadi dewasa yang menyenangkan…


*amin



Sabtu, 22 Juni 2013

Balada A Shoulder To Cry On

Rotasi perputaran tawa dan tangis dalam kehidupan pasti akan menyapa setiap cerita waktu manusia, no matter what…  Seorang motivator hebat sekalipun, ada saat dia mengalami titik terendah dalam hidupnya  dan membutuhkan bahu untuk bersandar.

Secara psikologis, apabila kita dalam titik terendah dalam hidup kita, rasa penat akan terasa di pundak, bagaikan membawa tas ratusan kg (*iya gtu ya ampe segitunya,hehehe..). Oleh karena itu manusia butuh pundak lain untuk membagi penat tersebut, dan tidak ada yang salah dengan semua itu..
Bahkan Mario Teguh pun dengan salam super-nya membutuhkan bahu lain untuk bersandar..

Saya teringat sebuah lagu lama dari Tommy Page, A Shoulder To Cry On, di mana dalam lagu tersebut menceritakan akan selalu ada bahu yang siap untuk berbagi..  Jadi tak perlu malu untuk bersandar, karena akan ada selalu bahu untuk berbagi.. Sekali lagi, karena kita tak pernah benar-benar sendirian…





Balada "A Shoulder To Cry On.."

Manusia biasa..
Dengan sebuah bahu yang luar biasa
A Shoulder To Cry On..

Balada Peluk

Hanya ingin share sebuah kalimat pendek yang mungkin bisa bermanfaat :

A hug is a great gift..One size fits all. It can be given for any occasion.. –anonim-




Balada Peluk... 

Tak ada yang mampu menerjemahkan
Mau itu jutaan kata-kata..
Bahkan tetesan air mata..
Mungkin peluk itu.. Mampu!